Memasuki Tahun Pelayanan Baru (3)
Wacana Kebaktian Umum dan Kebaktian Remaja di sekolah Penabur Tanjung Duren
Pada 7 Juli 2014 GKI Delima akan genap berusia 30 tahun. Sejak GKI Delima memperingati HUT nya yang ke 20, beberapa orang bertanya, “Kapan ya GKI Delima bisa punya pos kebaktian?” Artinya kebaktian yang sekarang cuma ada di GKI Delima ini supaya bisa dikembangkan. Maka sejak tahun pelayanan 2012/2013, Majelis jemaat GKI Delima mulai memikirkan secara lebih intensif kemungkinan setiap Minggu mengadakan kebaktian Umum dan kebaktian Remaja pada pk.09.00 WIB di kompleks Sekolah Penabur Tanjung Duren. Dalam proposal yang sudah disusun, paling tidak ada 3 hal yang menjadi latar belakang wacana untuk setiap Minggu melaksanakan kebaktian Umum dan Kebaktian Remaja di kompleks Penabur Tanjung Duren, sebagai berikut:
a. Sudah lama GKI Delima punya kerinduan untuk memiliki pos kebaktian
b. Pertumbuhan Apartemen Mediterania/Central Park
c. Pertumbuhan jemaat GKI Delima dan terbatasnya lahan di GKI Delima untuk diperluas
Sedangkan tujuan setiap Minggu diadakan kebaktian Umum dan Kebaktian Remaja di kompleks Penabur Tanjung Duren, sebagai berikut:
a. Menjangkau komunitas SMAK I dan Ukrida, mewujudkan lebih nyata kerja sama dengan Penabur dan Ukrida.
b. Menjangkau anggota GKI dan simpatisan yang berdomisili di apartemen dan lokasi sekitar Tanjung Duren Utara
c. Memberi kesempatan pelayanan yang lebih luas bagi anggota GKI Delima (melihat/menjangkau ladang pelayanan yang lebih luas)
d. Memenuhi kebutuhan adanya kebaktian Remaja pada jam yang sama dengan kebaktian Umum
e. Mengantisipasi pertumbuhan jemaat, yang mungkin dalam beberapa tahun ke depan tidak tertampung lagi di tempat kebaktian Jl. Delima
Dengan latar belakang dan tujuan di atas, maka MJ GKI Delima pada awal tahun ini telah melayangkan surat kepada Pengurus BPK Penabur Jakarta. Adanya tanda-tanda menuju “lampu hijau” telah nampak dalam pembicaraan antara MJ GKI Delima, Pengurus Penabur Jakarta, dan BPMSW GKI SW Jabar pada 19 Maret 2013. Saat ini MJ GKI Delima sedang menunggu jawaban resmi dengan surat dari Pengurus Penabur Jakarta dan mencari tanggal mulai yang tepat. Jika Tuhan mengizinkan untuk dilaksanakan kebaktian di kompleks Penabur ini, maka diperlukan banyak anak-anak Tuhan yang mau menyediakan diri dipakai oleh Tuhan dalam pelayanan. Mari melayani bersama. Mari kita doakan untuk rencana ini agar kehendakNya saja yang jadi.
Pdt. Meitha Sartika, Th.M.
ISTERI YANG MENDUKUNG SUAMI DENGAN SEGENAP HATI
Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya.
Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi;
siapa tidur pada waktu panen membuat malu.
(Amsal 10 : 4-5)
Dalam sejarah Tiongkok kuno diceritakan tentang seorang Perdana Menteri yang gemar memakan ikan dan hal ini diketahui oleh warga masyarakat di negerinya. Ada banyak penduduk yang berkepentingan dengan Perdana Menteri berusaha mengirimkan ikan, bahkan ikan terbaik untuk sang Perdana Menteri tetapi ia selalu menolak kiriman ikan dari siapa pun juga. Isterinya bertanya kenapa ia selalu menolak kiriman ikan itu? bukankah mereka berniat baik, bukankah ia suka sekali makan ikan? Ia menjawab kalau saya menerima kiriman ikan tersebut ada kemungkinan saya tidak dapat makan ikan lagi. Isterinya tidak mengerti, lalu suaminya kemudian menjelaskan: pemberian ikan tersebut diperkirakan dengan motif untuk kepentingan tertentu (menyogok atau menyuap), hal itu dapat mengganggu jabatan dan pekerjaannya karena ia bisa kehilangan integritas. Kalau sampai seperti itu ia bisa dipecat dan kehilangan jabatan dan pekerjaannya. Bila sudah tidak punya jabatan dan pekerjaan siapa yang mau kirim ikan? tidak akan ada lagi orang yang mau kirim ikan sementara mau beli sendiri juga tidak bisa karena sudah dipecat, berarti tidak punya penghasilan/uang. Jadi kalau sekarang sebagai Perdana Menteri ia tidak menerima kiriman ikan (sogok/suap) ia tetap dapat mempertahankan jabatannya dan punya penghasilan maka selalu dapat beli ikan sendiri.
Sang isteri sangat mendukung sikap suaminya, sebab ia sadar bahwa jabatan dan pekerjaan adalah sesuatu yang tidak datang begitu saja namun sesuatu yang harus diraih dengan perjuangan. Dengan memiliki jabatan atau pekerjaan maka sebuah keluarga memiliki kepastian tentang memenuhi kebutuhan dasar hidup keluarga dan kesejahteraannya. Oleh sebab itu kalau pekerjaan diharapkan ‘menjamin’ atau memberi kepastian atas kesejahteraan keluarga, maka setiap orang perlu menjaga jabatan dan pekerjaannya dengan baik, jujur, benar dan berintegritas. Di sini si isteri seperti yang diungkapkan kitab Amsal 12 : 4, “ Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.”
Pada zaman ini, suatu nilai kepercayaan atau budaya melintasi mereka yang percaya dan memegang budaya tersebut. Seperti hari raya Tahun Baru China (imlek/Sincia) tidak hanya berpengaruh pada masyarakat China atau Tionghoa saja namun melintasi batas etnis tersebut. Bagi sebagian masyarakat Tionghoa seringkali Imlek dikaitkan dengan soal ramalan, harapan dan persepsi yang berkaitan dengan kesejahteraan hidup di dunia, dengan soal rejeki atau hoki, dan keberuntungan, juga bagaimana dapat terhindar dari kesialan hidup. Oleh sebab itu ucapan selamat tahun baru Imlek mengalami pergeseran yang cukup significan, bukan hanya dari lebih umum dengan dialek Hokkian ke Mandarin. Ada yang berpendapat bahwa ungkapan Mandarin “Gong Xi Fa Cai” lebih menekankan kesejahteraan materialitas daripada spiritualitas. Betul bahwa kesejahteraan hidup tidak dapat dilepaskan dari pekerjaan dan usaha, namun hasil kerja dan hasil usaha juga sangat dipengaruhi oleh ketekunan, kerajinan, pengalaman, kompetensi, komitmen, karakter, dan keteguhan hati.
Oleh sebab itu ramalan boleh dibaca atau di dengar tetapi tidak perlu dicari-cari apalagi dipercayai dengan segenap hati. Lebih baik jaga jabatan, pekerjaan dan usaha kita dengan menjadi seseorang yang makin berintegritas dan makin cerdas, sehingga ia menjadi berkat bagi masyarakatnya karena dekat dengan hoki dan gembira berbagi rejeki. (misalnya melalui perluasan lapangan pekerjaan) atau kegiatan keagamaan dan sosial. Dalam hal ini maka peran dan dukungan sang isteri sangatlah penting.
Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.
Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.
Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:
Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia,
tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
(Amsal 31 :10,11,26,28,30)
Pdt. Cucu Rustandi